1. Aliran Psikoanalisa.
a. Pengertian Psikoanalisa
Psikoanalisa ditemukan di Wina, Austria, oleh
Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu
psikologi yang memilik beberapa definisi dan sebutan, Adakalanya psikoanalisis
didefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga
sebagai pengetahuan psikologi.
Psikoanalisa menurut definisi modern yaitu (1)
Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika,
faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya
pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa, (2)
Psikoanalisa adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran
(bawah sadar), (3) Psikoanalisa adalah metode interpretasi dan penyembuhan
gangguan mental.
Psikoanalisa dalam pengertian lain (Hjelle &
Ziegler, 1992):
1.Teori
mengenai kepribadian & psikopatologi
2. Metode
terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran &
perasaan individu yang tidak disadari
Psikoanalisa memiliki sebutan-sebutan lain yaitu (1)
Psikologi dalam, karena menurut Freud penyebab neurosis adalah gangguan jiwa
yang tidak dapat disadari, pengaruhnya lebih besar dari apa yang terdapat dalam
kesadaran dan untuk menyelidikinya, diperlukan upaya lebih dalam, (2)
Psikodinamika, karena Psikoanalisis memandang individu sebagai sistem dinamik
yang tunduk pada hukum-hukum dinamika, dapat berubah dan dapat saling bertukar
energi.
b. Konsep Manusia Dalam Psikoanalisa
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu
ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis
dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam
kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat
manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey
yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara
sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud
luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan,
tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang
itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan
terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif
itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya
dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah. Dan struktur
kepribadian Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri
dari id, ego dan superego.
1. Id
adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana
sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
2.
Egoadalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana
sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan
dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar
nilai-nilaisuperego.
3.
Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia
merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu
yang dilakukan oleh dorongan ego.
2. Aliran Behavioristik
Pengertian
aliran Behavioristik
Terapi perilaku [behavior therapy] dan pengubahan
perilaku [behavior modification] atau pendekatan behavioristik dalam
psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan
psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini
banyak depergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas
atau konseling dalam arti sempitnya, bersumber pada aliran behaviorisme. Aliran
ini pada mulanya tumbuh subur di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim,
yakni John Broadus Watson, suatu aliran yang menitik beratkan peranan
lingkungan, peranan dunia luar sebagai factor penting di mana seseorang
dipengaruhi, seseorang belajar. Pada abad ke-17, dunia pengetahuan Filsafat
ditandai oleh dua kubu besar yakni kubu “empiricism” [physical science] dan
kubu “naturalism” [biological science]. Pada akhir abad yang lalu, mempengaruhi
lahirnya aliran behaviorisme dengan pendekatan-pendekatannya yang kemudian
menjadi terkenal dengan terapi perilaku [behavior therapy] dan perubahan
perilaku [behavior modification].
3. Aliran Humanistik
Pengertian Aliran Humanistik
Aliran ini muncul sebagai kritik terhadap pandangan
tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala
psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third force (the first
force is behaviorism, the second force is psychoanalysis).
Aliran humanistik merupakan salah satu aliran dalam
psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan
eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun
1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark
Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara
khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri),
aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat,
individualitas dan sejenisnya.
Sumber :
·
Basuki, Heru A.M (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
psikologi (2010).
·
Schultz Duane (1977). Growth Psychology: Models of the Healthy
Personality. New York: D. Van Nostrad Company.
·
Materi kuliah Kesehatan Mental. Psikologi 2013.
ALLPORT
Ada tujuh cirri-ciri kepribadian yang matang menurut
Allport, yaitu:
1. Perluasan Perasaan Diri:
Ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan
perhatian-perhatian diluar diri. Orang harus menjadi partisipan yang langsung
dan penuh. Allport menamakan hal ini “partisipasi otentik yang dilakukan
oleh orang dalam beberapa suasana yang
penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri kedalam aktivitas.
Dalam pandangan allport suatu aktivitas
harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang itu.
2. Hubungan diri yang hangat dengan orang lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam
hubungan dengan orang-orang lain; kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk
perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan
keintiman (cinta) terhadap orangtua,anak,partner,teman akrab. Orang
mengungkapkan partisipasi otentik dengan orang yang dicintai dan memperlihatkan
kesejahteraanya; hal ini sama pentingnya dengqn kesejahteraan individu sendiri.
Syarat lain bagi kapasitas untuk keintiman adalah suatu perasaan identitas diri
yang berkembang dengan baik. orang yang neurotis harus menerima cinta jauh
lebih banyak dari pada kemampuan mereka untuk memberinya.
3. Keamanan emosional
Sifat dari kepribadian yang satu ini meliputi
beberapa kualitas:
Kualitas utama adalah penerimaan diri.
Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari ada mereka,
termasuk dari kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada
kelemahan-kelemahan tersebut. Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu
menerima emosiemosi mereka, mereka bukan tawanan dari emosi-emosi mereka,dan
mereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu.
4. Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara
objektif. Sebaliknya orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas
supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan,kebutuhan-kebutuhan, dan
ketakutan-ketakutan mereka sendiri.
5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya
menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan
menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu
suatu tingkat kemampuan. Kita juga harus menggunakan keterampilan-keterampilan
itu secara ikhlas,antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya alam
pekerjaan kita.
6. Pemahaman Diri
Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman
tentang hubungan/perbedaan antara
gambaran tentang diri yang dimiliki seseorang dengan dirinya menurut
keadaan yang sesungguhnya. Semakin dekat hubungan antara kedua gagasan ini,
maka individu juga semakin matang. Hubungan lain yang penting adalah hubungan
antara apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang
sehat terbuka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran
diri yang objektif.
7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong
oleh tujuantujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai
suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai
batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian
mereka. Allport menyebut dorongan yng mempersatukan ini “arah”(directness).
Arah ini membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan atau
rangkaian tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup.
CARL ROGERS
Menurut Rogers : Memahami dan menjelaskan teori
kepribadian sehat menurut rogers yang meliputi:
a. Perkembangan
kepribadian “self”
b. Peranan
positive regard dalam pembentukan kepribadian individu
c. Ciri-ciri
orang yang berfungsi sepenuhya
1.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN “SELF”
Roger bekerja dengan individu-individu yang
terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat
pasien-pasien ini, Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan
tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli
terapi.
Menurut Rogers, manusia yang sadar dan rasional,
tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Hal ini tidak
menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak
dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi
kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau.
Rogers mempunyai konsepsi-konsepsi pokok didalam
teorinya, yaitu:
a.Organism,
yaitu keseluruhan individu
b.Medan
phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman dan
c. Self, yaitu bagian medan phenomenal yang
terdeferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada
“I” atau “me”.
Self mempunyai beramacam-macam
sifat:
1.Self
berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya.
2.Self
mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara
yang tidak wajar.
3.Self
mengejar keutuhan/kesatuan.
4.Organisme bertingkah laku dalam cara yang
selaras dengan self.
5.Pengalaman-pengalaman
yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
6.Self
mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan dan belajar.
2. PERANAN POSITIF REGARD DALAM PEMBENTUKAN
KEPRIBADIAN INDIVIDU
Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa,
dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard.
Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan
ini. Anak puas kalau menerima kasih sayang dan cinta dari orang lain (ibunya),
tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih
sayang. Anak itu akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat, tergantung
pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
Dalam hal ini, anak menjadi peka terhadap setiap
tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi
yang diharapkan. Anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang
lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena ia telah merasa kecewa, maka kebutuhan
akan positive regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengerahkan
energi dan pikiran. Anak itu harus bekerja keras untuk positive regard dengan
mengorbankan aktualisasi-diri.
Anak dalam situasi ini mengembangkan apa yang
disebut Rogers “penghargaan diri positif bersyarat” (conditional positive
regard). Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap
tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard
maka ia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu
diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.
3. CIRI-CIRI ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHNYA
Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers
mengenai kepribadian yang sehat, yakni keribadian yang sehat itu bukan
merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses, “suatu arahan bukan
suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus; tidak pernah merupakan suatu
kondisi yang selesai atau statis. Hal kedua dari aktualisasi diri adalah
aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang sukar dan kadang menyakitkan.
Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rentangan dan pecutan terus menerus
terhadap semua kemampuan seseorang. Hal ketiga tentang orang-orang yang mengaktualissikan
diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tida
bersembunyi dibelakang topeng yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan
mereka atau menyembunikan sebagian diri mereka.
a)
Keterbukaan Pada Pengalaman
Seseorang yang terhambat oleh syarat-syarat
penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang
harus dilawan karena tidak satu pun yang mengancam. Jadi, keterbukaan pada
pengalaman adalah lawan dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf
organisme tanpa distorsi atau rintangan.
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan
lebih “emosional” dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang
bersifat positif dan negatif (kebahagiaan maupun kesusahan) dan mengalami
emosi-emosi itu lebih kuat daripada orang yang defensif.
b) Kehidupan
Eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya
dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti
sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu ada
kegembiraan karena setiap saat pengalaman tersingkap. Orang yang berfungsi
sepenuhnya jelas dapat menyesuaikan diri karena struktur-diri terus-menerus
terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian itu tidak
kaku dan dapat diramalkan.
c)
Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar
merupakan pedoman yang sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan,
lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang
yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul
seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak
spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau
sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.
d) Perasaan
Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara
psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak.
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau
rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi
sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan
dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah
laku, keadaan atau peristiwa masa lampau.
e)
Kreatifitas
Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal
karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan
sosial dan kultural. Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya
lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang
drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreatifitas dan
spontanitas untuk menanggulani perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti
dalam pertempuran atau bencana-bencana ilmiah.
ABRAHAM MASLOW
Teori Kepribadian Abraham Maslow
1.
Individu sebagai Kesatuan Terpadu
Pertama-tama Maslow menekankan bahwa individu
merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi, sehingga motivasi seseorang
dalam melakukan sesuatu adalah motivsi individu seutuhnya bukan bagian darinya.
Menurut maslow manusia harus diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai
suatu system, setiap bagian tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain.
Pernyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang
kemudian sering dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian.
Penting sekali untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang
melakukan eksperimen atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
2.
Hirarki Kebutuhan
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua
motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”.
Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan
terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan
tersebut.. Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima
karakteristik. sebagai berikut:
a. Kebutuhan
fisiologis, Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar
untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan,
minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang
mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari
makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan
membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan.
b. Kebutuhan
akan rasa aman, Setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang
digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan
ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan,
kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur,
ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati
pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau
lingkungan yang dapat diramalkan.
c. Kebutuhan
social, Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang
mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan
kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat
kebutuhan ini,belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya
seorang sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi
yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan
terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan
berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya.
d. Kebutuhan
akan penghargaan, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan
penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup
kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan,
prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua
(eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan,
penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama
baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan
demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif.
ERICH FROMM
Menurut Erich Fromm, manusia adalah
makhluk sosial. Berdasar pada pendapat tersebut, maka salah satu ciri pribadi
yang sehat berarti adanya kemampuan untuk hidup dalam masyarakat sosial.
Masyarakat sangat penting peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.
Kepribadian seseorang merupakan hasil dari proses sosial di dalam masyarakat.
Masyarakat yang menjadikan seseorang berkepribadian sehat adalah masyarakat
yang hubungan sosialnya sangat manusiawi.
Menurut Fromm, ada lima watak
sosial di dalam masyarakat:
1) Penerimaan (receptive)
2) Penimbunan (hoarding)
3) Penjualan/pemasaran (marketing)
4) Penghisapan/pemerasan (exploitative)
5) Produktif (productive)
Dari kelima watak sosial ini yang
benar-benar tepat dan sehat hanyalah watak produktif karena watak produktif
didorong oleh cinta dan akal budi dan dapat membantu perkembangan dan
pertumbuhan pribadi dan masyarakat.
Masyarakat yang baik itu perlu
ditopang dengan cinta. Oleh karena itu, Fromm menyebutkan 5 tipe yang berbeda
tentang cinta, yaitu:
1) Cinta persaudaraan
2) Cinta keibuan
3) Cinta erotik
4) Cinta diri
5) Cinta ilahi
Menurut Fromm, cinta sangat penting
untuk membangun dunia yang lebih baik sebab yang dicari setiap orang di dalam
masyarakat bukan penderitaan.
Jadi
menurut Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup dalam
masyarakat sosial yang ditandai dengan hubungan-hubungan yang manusiawi,
diwarnai oleh solidaritas penuh cinta dan tidak saling merusak atau
menyingkirkan satu dengan lainnya. Tujuan hidup seorang pribadi adalah
keberadaan dirinya itu sendiri dan bukan pada apa yang dimiliki, pada apa
kegunaannya atau fungsinya (A man whose goal in life is being, not having and
using). Dengan demikian, menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam
masyarakat,
2. mampu mencintai dan dicintai,
3. mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
4. mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat,
5. mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya
6. memiliki watak sosial yang
produktif.
sumber:
http://wardalisa.staff.gunadarma.ac.id
http://ratihfirmansyah.blogspot.com/2013/04/teori-kepribadian-sehat.html
Puspitawati, I. Dwi Riyanti, Hendro
Prabowo.(1996). Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum I. Jakarta. Gunadarma.
http://staciafie.wordpress.com/2013/03/27/teori-kepribadian-sehat/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar